Google
 

Rabu, 30 April 2008

Biarlah pohon berkisah

Beringin si SherlyKita sering melihat ada tulisan yang ditorehkan di kulit pohon besar di tengah taman, tepi hutan wisata, atau di pinggir jalan dekat perhentian bus kota. Tulisan itu ingin menyampaikan perasaan cinta dari seorang cowok ke seorang cewek, misalnya "Sherly, I love you!" Kadang-kadang di pohon yang sama juga sudah terpahat jawabannya, "Toni, I love you too!"

Si pemahat ingin membuat kenangan. Dia ingin pohon itu menjadi semacam prasasti hidup, supaya kelak suatu saat bisa didatanginya kembali. Dia pikir, pohon ini pernah menjadi saksi bisu cintanya terhadap sang kekasih. Seolah-olah suatu saat pohon ini akan berkisah lagi tentang kenangan-kenangan indah bersama si dia. Bisa saja itu terjadi, kecuali kalau si pohon keburu ditebang karena pelebaran jalan atau keperluan lain! Jika demikian, sia-sialah prasasti yang telah dibuatnya. Kasihan deh...

Sebatang pohon memang bisa menjadi tanda bersejarah. Ia bisa membantu kita untuk mengenang sebuah peristiwa. Seringkali itu peristiwa penting, mengesankan, atau sangat bermakna dalam hidup kita. Pemerintah pun kadang memakai pohon untuk menandai dimulainya suatu ajakan tertentu, misalnya mengajak masyarakat menanam sebatang pohon di pekarangannya tepat pada perayaan Hari Bumi (Earth Day) yang jatuh setiap tanggal 22 April.

Aku pun baru saja melakukan hal yang sama. Pada hari kelahiran anak pertama adikku aku menanam pohon beringin. Kebetulan di bibir parit teras ruangan tempat adikku dirawat tumbuh tunas beringin liar. Tunas itu aku cabut dan aku bawa pulang. Sekarang dia tumbuh subur terawat di dalam pot. Suatu saat kelak pohon beringin itu akan menjadi cerita untuk keponakanku yang lahir Minggu, 30 Maret 2008 lalu. Pasti beringin itu akan menjadi hadiah istimewa untuknya.

Tanamlah sebuah pohon atau tanaman tertentu untuk hari-hari istimewamu: ulang tahunmu, hari kelulusanmu, atau hari jadianmu dengan si dia! Daripada membuat kenangan dengan merusak lingkungan, kan lebih baik dengan memelihara dan merawat sesuatu yang pasti lebih berkesan dan pasti bermanfaat. [skd]

Senin, 28 April 2008

Laki-laki pun boleh menyukai bunga-bunga, kok!

Sejak kapan mencintai bunga-bunga hanya monopoli anak perempuan? Ada yang bisa menjawab? Yakin, ga' ada yang tahu! Dan tidak perlu dijawab, karena yang boleh mencintai bunga-bunga bukan hanya anak perempuan saja. Laki-laki pun boleh! Ntar dibilang banci! Sejak kapan anak laki-laki senang bunga terus jadi banci? Tak perlu dijawab, karena tidak ada sejarah seorang laki-laki yang mendadak hilang kelaki-lakiannya hanya gara-gara menyenangi bunga-bunga!

Bunga-bunga seringkali dihubungkan dengan anak perempuan. Bunga-bunga memang simbol keindahan dan kecantikan. Biasanya yang dikatakan cantik adalah perempuan atau wanita. Jadi kalau menyukai bunga-bunga berarti menyukai keindahan dan kecantikan, menyukai perempuan. Nah, lho! Tetap normal kan, seandainya yang menyukai bunga-bunga itu seorang laki-laki?
Ketika seorang laki-laki mengungkapkan rasa sukanya kepada seorang perempuan, biasanya dia akan memberikan rangkaian bunga. Bayangkan, bila bunga-bunga yang terangkai indah itu adalah hasil dari tanaman sendiri! Apa ga' semakin keren, tuh?!

Sebenarnya setiap orang suka akan sesuatu yang indah dan mempesona. Kalau tidak, aku jamin orang itu ga' bakalan menyenangkan! Ga' asyik! Membosankan! Bahkan, bisa jadi mengerikan!

Memang sih, yang indah atau mempesona itu sangat tergantung dari perasaan masing-masing orang. Lagipula antara orang yang satu dengan orang yang lain akan berbeda: yang mengasyikkan bagi orang yang satu, belum tentu mengasyikkan bagi orang lain. Tetapi anehnya, semua orang tentu akan setuju bahwa bunga mawar, melati, krisan, anggrek, sedap malam, dll. semuanya "indah"! Ada yang tidak setuju?

Karena bunga-bunga seringkali menjadi lambang keindahan, maka tidak ada salahnya kalau kita berakrap-akrap dengan bunga-bunga. Maksudnya, supaya kita bisa ketularan indahnya bunga-bunga. Tanamlah sebuah bunga yang kalian suka. Rawatlah dia dengan sepenuh hati. Maka kalian akan semakin mengerti akan betapa indahnya bunga tanamanmu itu, dan betapa hati dan perasaanmu akan diperhalus. Kalau kalian seorang laki-laki, kepribadianmu akan terasah menjadi semakin gentleman ("gentle" - Ing.= halus).

Kadang-kadang perlu toh, seorang laki-laki menampilkan dirinya yang lembut kebapaan, tidak terus-terusan kasar dan keras! Belajarlah sifat indah, lembut, gentleman, kebapaan itu dari dunia bunga-bunga. [skd]

Senin, 21 April 2008

Terasku rame dengan tanaman

Taman wisata di teras rumahkuAku tidak punya pekarangan yang luas. Bahkan tanah pun tidak ada. Semua bagian tempat tinggalku saat ini berupa cor-coran semen. Maklum, aku masih tinggal di rumah kontrakan di Jakarta. Namun hal itu tidak menjadi kendala bagiku untuk menyalurkan hobbyku berkebebun. Bukankah kita bisa menanam tanaman di dalam pot?

Lihatlah foto di samping ini. Cukup menyejukkan mata bukan? Itulah foto "kebun kecilku" di teras rumah kontrakan. Meskipun hanya ditanam dalam pot-pot plastik, mereka bisa tumbuh dengan suburnya. Hijau daun-daunnya dan beberapa warna-warni bunga yang kadang berkembang cukup membuat suasana terasku menjadi lebih teduh. Setiap bangun pagi terasku itu serasa seperti taman kecil di pojok bangunan gedung rumah yang serba beton dan semen. Aku menyiraminya dua kali sehari, pagi dan sore.

Aku punya beberapa macam tanaman hias: anthurium gelombang cinta (wave of love), sri rejeki, philodendron, keladi tengkorak, aglonema, cocor bebek, anggrek tanah dan lain-lain. Bahkan beberapa tidak aku kenal namanya, yang penting tanaman itu asri dipandang. Ada juga tunas alpukat yang ditanam istriku. Dia merasa sayang kalau biji dari buah alpukat yang dia beli hanya dibuang begitu saja. Sementara aku juga menaman tunas beringin yang aku ambil dari rumah sakit St. Carolus Boromeus di hari kelahiran keponakanku. Untuk kenang-kenangan, maksudku.

Jadilah terasku rame dengan tanaman. Ternyata tanpa pekarangan luas pun aku masih bisa "menciptakan" tempat "wisata" sederhana. Ya, aku sering menyebutnya demikian karena tanaman-tanaman di dalam pot-pot di teras itu berfungsi mirip dengan tempat wisata: di sana aku merasa disegarkan dan hatiku terhibur oleh keindahan tanaman-tanaman itu. Sebelum berangkat kerja, taman kecilku itu seperti menghembuskan semangat dan gairah hidup yang baru. Sepulang kerja, ia seolah menyerap semua kepenatan dan kejenuhan yang ada di tubuhku. Ketika aku sulit tidur di malam hari pun tanaman-tanaman itu menemaniku untuk sejenak bercengkerama sampai kantuk tiba. Kadang-kadang mereka bahkan menyampaikan cerita malam tentang alam semesta yang agung ini. Beberapa malah mengajariku untuk berpuisi. Dan tak jarang mereka seolah mengajakku berdoa, sujud di hadapan Allah Sang Maha Pencipta. [skd]